Ads 468x60px

  • BAKSOS IKA SMUDAMA 2015

    Pada kesempatan kali ini kami dai redaksi Apa Kabar SMUDAMA? akan melaporkan kegiatan Baksos IKA SMUDAMA Kembali Untuk Berbagi Jilid 2. Kegiatan ini dilaksanakan pada 24-27 Desember 2015, di SMAN 2 Tinggimoncong......

  • CESS VI

    "Take an action, Get the champion!" Seperti biasa, Smudama menjalankan sebuah event besar setiap dua tahun sekali yakni Competition of English and Science Smudama atau biasa disingkat CESS VI......

  • PORSENI 2015

    redaksi AKS akan membahas mengenai PORSENI 2015 yang telah dilaksanakan pada tanggal 19 Desember sampai 22 Desember 2015. PORSENI atau Pekan Olahraga dan Seni itu sendiri merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan pada akhir semester ganjil....(UNM)...

Jumat, 19 Februari 2010

CERPEN KU

My Love Just

For My Heart…

SEBUAH CERITA PENDEK YANG BERKISAH

TENTANG KISAH SEJATI MAKHLUK TUHAN


KUTULIS I NI UNTUK SEMUA PENIKMAT SASTRA

AWAL SAFAR.M

SMAN 02 TINGGIMONCONG

2010


My Love Just




For My Heart…

Dia emang manis, nggak ada yang lebih manis. Dan liahtlah diriku, hanya seekor makhluk kecil yang takkan bisa duduk sejajar dengan mereka. Aku hanya dapat membuat manusia jijik dan langsung mengambil kain lalu dikibaskannya kearahku untuk mengusirku. Tetapi, apa yang terjadi padanya? Ketika manusia melihatnya, bukannya mengusir, bahkan justru mengejarnya. Itu semua karena keindahannya.

Hari ini, entah kenapa aku sangat gembira. Aku putuskan saja untuk terbang sepuasku. Kali ini, bukan tempat sampah busuk itu yang menjadi tempat mainku. Aku coba sesuatu yang baru, yaitu pergi ke taman bunga yang tak begitu jauh dari tempat tinggalku.

“Hai, Liy! Kamu mau ke mana?”, Tanya salah seorang temanku yang sepertinya baru saja keluar dari tempat tinggalnya.

“Oh, kamu Sam, aku mau ke taman bunga, sekali-kali ke sana untuk cari suasana baru”, jawabku sambil tersenyum simpul.

“Aku ikut dong, bosen nih ke tong sampah terus”, ujarnya sambil tertawa.

Aku pergi bersama Sam, dia adalah teman yang tak terlalu akrab denganku. Tapi, itulah aku tak pernah memilih-milih teman, lagipula Sam baik.

Taman bunga ini begitu indah, mulai dari jenis Canna indica, Helianthus annuus, Legerstroemia indica, Brucea javanica, sampai Bougenville seakaan tersenyum menyapaku. Mereka memamerkan keelokan dan kekhasan yang dimilikinya masing-masing.

“Aku yakin dia ada di sekitar sini”, pikirku dalam hati.

Aku pun mulai hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain sedangkan Sam entah ke mana. Dari jauh aku melihat sebuah rumah yang mungil dan dikelilingi berbagai jenis bunga yang tampak kerdil pula. Aku melihat sesosok mahkluk yang begitu indah, ku merasa ada yang bergejolak di hati ini. Inikah cinta?. Ah, tidak mungkin dia itu golongan kasta Brahmana sedangkan aku hanyalah budak dari kebodohan yang tidak punya harga dari sebuah kepribadian. Aku hanya tukang korek sampah dan makan dari hasil korekan itu. Sungguh menjijikkannya diriku. Tapi, haruskah aku hanya memendam perasaan ini? Tanpa melakukan sedikit pun usaha untuk mengejar cintanya.

Sepertinya Sang Rasa sudah menutup malu yang ada pada diriku, diriku yang dulu kini sudah berubah. Dulu, aku tak pernah mengenal cinta tetapi sekarang justru itu yang memenuhi benakku kini.

Tak terasa sudah dua jam aku terpaku melihatnya dari jauh. Ternyata dia juga memperhatikanku dari tadi, mungkin dia merasa aneh melihat seekor makhluk jorok sepertiku ada di taman bunga yang indah itu. Sekarang dia menghampiriku, dengan gugup aku melemparkan senyumku dari jauh.

“Hei, sedang apa di sini?”, tanyanya dengan sebuah senyum manis di bibir mungilnya.

“Hei, aku di sini sedang menunggu Sam temanku tetapi dia tak kunjung datang”, jawabku gugup.

“Oh, tapi aku lihat kamu memperhatikanku dari kejauhan, memangnya ada apa denganku?”, lanjutnya.

“Oh, mmm…. Maaf aku cuma kagum denganmu, kamu punya sayap yang besar, indah dan warna-warni lagi, sementara aku tak punya sayap seindah sayapmu”, ujarku.

“Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Tuhan telah menciptakan kelebihan dan kekuranagn untuk semua ciptaannya”, kata dia sambil terus memamerkan senyumnya.

“Kamu memang makhluk yang tak ada duanya bagiku, sesosok putri yang menjunjung tinggi kepribadiannya yang indah”, pikirku dalam hati.

Lama aku termenung, dan tak sengaja menatapnya dalam-dalam. Melihat hal itu, dia segera menepuk pundakku.

“Kok bengong, emang apa yang salah dariku sampai-sampai kamu menatapku seperti itu?” , tanyanya.

“Tidak, maaf aku harus pergi, sampai jumpa”, jawabku sambil beranjak pergi dari tempat itu.

Aku mencintainya, tetapi cukuplah diriku yang tahu. Aku tak mau orang lain tahu bahwa aku mencintainya. Cinta tak selamanya harus diperlihatkan, cinta sejati adala cinta yang dapat aku simpan dalam hati tanpa harus ada yang tahu.

*****************

Siang ini, entah kenapa? Berhubung aku lagi tak punya kegiatan dan kepalaku terasa penuh, aku kembali ke taman itu untuk sejenak saja mendinginkan kepala.

Aku asyik melihat ikan-ikan kecil yang sedang saling berebut makanan yang baru saja diberikan oleh pengelolah taman itu. Aku terduduk sendiri di atas daun yang sedang mengapung di kolam itu. Sesekali aku melihat sekelilingku untuk sekedar memantau situasi di taman itu.

Sepertinya, aku mulai bosan bertengger di daun yang mulai sedikit tenggelam akibat riak air. Aku pun memutuskan untuk terbang ke daerah rumah mungil itu. Sayap kecilku dengan semangat membawaku ke tempat itu.

Kini keadaan sedang sunyi, tak satu pun orang lewat di sekitar rumah mungil itu. Aku pun memutuskan untuk beristirahat saja di depan rumah itu. Tak terasa, mataku mulai berat untuk dibuka dan akhirnya aku pun tertidur lelap.

**********************

Aku terbangun ketika mendengar suara yang sangat gaduh, aku pun naik ke atas atap rumah itu. Sekarang aku tahu, suara itu berasal dari empat orang anak-anak yang sedang asyik bermain sambil membawa alat penangkap kupu-kupu dan salah seorang di antara mereka sedang membawa sebuah sangkar mungil dengan celah yang berukuran kecil. Oh, tidak! Dalam sangkar itu ada banyak kupu-kupu yang indah sedang terduduk sedih.

Aku pun mendekatinya, dengan teliti aku melihat satu persatu kupu-kupu yang ada di dalam sangkar itu. Syukurlah, dia tidak ada di dalam sangkar itu. Aku pun bisa sedikit lega.

Belum sempat, aku berbalik dan beranjak pergi, sekilas aku melihat salah seorang di antara mereka sedang memegang seekor kupu-kupu di tangan kirinya. Dan dia adalah makhluk indah itu, makhluk kecil yang sudah lama menjadi penguasa hatiku.

Aku tak harus berbuat apa, aku tak mungkin bisa membantunya untuk lepas dari genggaman manusia itu. Aku hanya dapat meneteskan air mata, lemah, dan tidak bisa berbuat apa-apa sedikit pun. Aku hanya bisa berdo’a agar Tuhan membuka mata hati manusia itu. Inilah aku, yang tak bisa berbuat apa-apa untuk makhluk yang aku sangat cintai sekali pun.

Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu, aku harap anak itu akan melepaskannya jika dia sudah bosan. Itulah manusia, ketika dia bosan dia takkan segan mencampakkan apapun itu bahkan sesuatu yang dengan susah payah dia dapatkan sekalipun.

Kini, aku sudah pergi jauh dari tempat itu. Tapi, mengapa aku merasa ada yang mengganjal di hatiku. Aku bertekad tak akan menyatakan rasa ini kepadanya. Biarlah rasa ini hanya untuk hatiku, tak ada yang boleh mengetahuinya. Dengan begitu, aku merasa sejati mencintainya. Memang cinta tak harus diungkapkan, biarlah Sang Waktu yang mengatur semuanya.

Aku melewati sepasang lebah yang sedang asyik bercengkerama di bawah bunga Bougenville, sepertinya mereka sepasang kekasih. Aku iri melihatnya.

”Andai saja aku bisa seperti mereka”, pikirku dalam hati.

Aku serta-merta berbalik, berencana untuk kembali ke sekitar rumah mungil itu. Ku percepat terbangku,

”Aku harus bertemu dengannya, aku harus mengungkapkan cintaku”, gumamku bersemangat.

Beberapa meter lagi aku tiba, rumah mungil itu sudah terlihat tepat di depanku. Tetapi, sepertinya anak-anak tadi sudah tak ada di sana. Aku percepat terbangku, dan apa yang terjadi?

Ternyata pujaan hatiku telah terkapar di atas tanah, anak itu telah membunuhnya. Aku menangis sejadi-jadinya sambil menghampirinya. Aku hanya bisa menatap matanya yang tampak lesu, mungkin karena lelah melayani kesenangan sesaat anak-anak itu. Dia telah tiada kini, dia tak akan pernah tahu cintaku padanya. Perlahan aku berbisik di telinganya,

“Biarlah cintaku hanya untuk hatiku, terima kasih cinta”, ucapku sambil terus menangis.

CREATED BY: AWAL SAFAR.M


Komentar via Facebook
5 Komentar via Blogger

5 comments:

  1. kak zainul : hehehe,,, iya kak... sengaja dibuat begitu kak,... bagaimana menurut ta ceritanya secara keseluruhan kak?

    BalasHapus
  2. Love story..
    Sungguh asyik dibaca..
    Makasih ya mau bagi cerita..I like it

    BalasHapus
  3. saumi : hehehhe,, iya makasih juga buat apresiasinya.... iseng2 aja tuh buat nih cerpen...

    BalasHapus

Akan lebih baik jika Anda mencantumkan nama Anda!

Subscribe
emailDapatkan Artikel Terbaru dari kami via Email, akan langsung di kirim ke Email anda
 

Menurut Anda, Bagaimana kah Keadaan Smudama Sekarang?

Back to top

Slide Show

Slide Show berupa Foto-foto dari SMA Negeri 2 Tinggimoncong sebagai Gambaran dari Sekolah Kami